Dayeuhkolot, Pusat Peradaban dan Pemerintahan Bandung Baheula

Bandung –

Dayeuhkolot merupakan pusat pemerintahan Bandung sebelum dipindahkan ke wilayah Kota Bandung. Namun pada zaman tersebut namanya bukan Dayeuhkolot, melainkan adalah Karapyak.

Nama Dayeuhkolot berarti Kota Tua. Pada masanya, daerah tersebut telah menjadi pusat peradaban bahkan pusat pemerintahan Bandung.

Sedangkan nama Karapyak sendiri memiliki arti dari rakit penyeberangan yang dibuat menggunakan batang-batang bambu. Sampai tahun 1810, Karapyak adalah tempat kedudukan para Bupati Bandung, dengan Bupati pertama Tumenggung Wirangunangun.

Juru pelihara Makam Leluhur Bandung, Jujun Syarif Hidayat (76) mengatakan pertama kali dibangun Pendopo sebagai pusat pemerintahan Bandung di daerah Dayeuhkolot. Sehingga wilayah Dayeuhkolot langsung ditata sebagai ibu kota pertama pada tahun sekitar tahun 1600 silam.

Kemudian Raden Tumenggung Wirangunangun mengusulkan memindahkan pusat pemerintahan Bandung ke kawasan kota. Hal tersebut dilakukan setelah menelusuri berbagai tempat di Bandung.

“Jadi sejarah awalnya Bandung itu bukan raja jalan-jalan menancapkan tongkat terus keluar air di Sumur Bandung itu. Padahal bukan kayak gitu, masa raja mau gitu-gituan. Jadi yang sebenarnya adalah Raden Tumenggung Wiraangunangun mendapat wasiat dari raja, jadi sebelum dia pulang dari Belanda, Bandung harus sudah pindah, cari dulu puseur Bandungnya dimana,” ujar Jujun kepada detikJabar belum lama ini.

Jujun menjelaskan Tumenggung Wiraangunangun langsung menyusuri ke beberapa daerah untuk mencari titik Bandung. Kemudian dipilihnya area yang saat ini menjadi kantor PLN.

“Tumenggung Wiraangunangun langsung menyusuri daerah-daerah, kayak ke Tegallega, terus ke Kebon Kalapa. Terus ketemu-ketemu, dan nanceb (ditentukan) di Cikapundung, yang sekarang adalah PLN, dulu mah hutan lah di situ teh. Jadi di situ itu pas tengah-tengahnya, 18 utara, 18 selatan, 18 timur, dan 18 barat,” katanya.

Dia mengungkapkan alasan Dayeuhkolot dipindahkan karena wilayahnya yang sempit. Pasalnya di wilayah tersebut terhalangi berbagai sungai yang melintas.

“Makanya dipindah dahulunya Dayeuhkolot adalah wilayah yang sempit. Istilahnya kalau ke utara kehalangin (terhalang) Cikapundung. Ke arah lainnya ada Citarum, ke depan juga ada Citarum. Jadi katanya nggak akan bisa mekar, ya istilahnya kalau dibangunnya puseur (pusat) Bandung di sini, nggak akan serame di Bandung kota sekarang,” jelasnya.

Sementara itu, penulis sekaligus peneliti sejarah, Atep Kurnia (42), mengungkapkan dipilihnya Dayeuhkolot sebagai pusat peradaban dan pemerintahan banyak pertimbangan. Salah satunya adanya jalur air di wilayah tersebut.

“Pertimbangannya banyak, salah satunya adalah soal lalu lintas perhubungan. Apalagi kan dekat sungai yang gede. Dulu Citarum itu gede, bisa dilayaran (dipakai berperahu),” ucap Atep saat ditemui detikJabar belum lama ini.

Menurutnya ada juga pertimbangan mistik. Salah satunya adalah diduga tempat berkubangnya badak putih.

“Ada juga pertimbangan secara mistik. Kan misalnya analoginya ketika memilih Alun-alun Kota Bandung sekarang dijadikan ibu kota, di antaranya ada pertimbangan mistik, di situ ada pangguyangan (tempat berkubang) badak putih, Sumur Bandung kan,” jelasnya.

“Kemungkinan dipilih Dayeuhkolot, ya di antaranya kemungkinan pertimbangannya daerah yang diproyeksikan ke depan akan maju lah. Kan itu tadi ada pangguyangan badak putih,” tambahnya.

Namun, Atep menjelaskan Dayeuhkolot sebagai pusat peradaban karena adanya sungai. Sehingga nantinya sungai tersebut bisa dijadikan sarana transportasi untuk ekonomi masyarakat.

“Kalau dilihat dari kasat mata, kelihatan ada jalur lalu lintas yang melewati sungai. Ya kan keperluannya untuk pengangkutan seperti kopi, dan lain-lain,” ucapnya.

Atep mengatakan adanya penentuan Alun-alun Bandung saat ini tidak pernah lepas dari adanya pembangunan Jalan Raya Pos di wilayah tersebut.

“Kan hampir bareng dipindahkannya ibu kota dari Dayeuhkolot ke Jalan Cikapundung. Terus bareng dengan dibangunnya Jalan Raya Pos. Ya pertimbangan jalan raya itu bisa peningkatan signifikan, untuk penentuan lokasi, ibu kota,” kata Atep.

Dia menambahkan saat ini beberapa peninggalan pusat pemerintahan di Dayeuhkolot telah tiada. Namun, ia hanya mengetahui adanya makam orang Belanda di wilayah tersebut.

“Cuma yang saya tahu itu ada makam anak kecil orang Belanda sekitaran tahun 1700-an di Dayeuhkolot. Kalau dilihat dari foto-foto dahulu pasti kelihatan. Ada monumen atau batu nisannya. Nama orangnya saya lupa siapa gitu,” tuturnya.

Dia menambahkan pada zaman tersebut pola manusia menempati peradaban adalah mendekati jalur-jalur transportasi. Salah satunya adalah sungai.

“Kalau dari sisi alam bukan karena daerah Dayeuhkolot titik terendah. Tapi sebelum ada jalan raya dan kereta api, kan kecenderungan pola pemukiman itu di pinggir sungai. Jadi kayaknya mengejar hal itu,” ucap Atep.

“Mungkin selepas adanya jalan raya, ya berarti peradaban saat itu langsung mendekati jalan. Sesudah ada jalan kereta api, ya sama dekat stasiun,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.